Penggoda Puasa Paling Powerful

11 Jul 2014

Puasa? Godaannya adalah menahan diri dari makan dan minum di siang hari. Itu terasa sekali ketika kecil dulu. Setelah dewasa, nyaris tak ada godaan berarti. Jiaaah. Bukan bermaksud menyombongkan diri, tapi memang karena terbiasa puasa, udah nggak ngaruh lagi soal perut mah. Orang boleh makan di depan kita dan puasa jalan terus tanpa tergoda. Bissaaa…

Yang agak susah mungkin urusan menahan nafsu. Saat remaja jelang dewasa, momen subuh atau tarawih dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk pamer keshalihan, dengan harapan bisa menarik perhatian yang shalih di shaf depan. Jiaaah. Bergaya sok alim, dengan quran besar di pelukan, kerudung rapi menutup kepala, datang paling awal ke masjid untuk ikut tarawih. Saat shalat subuh pun diupayakan datang ke masjid untuk menarik perhatian ikhwan, Mumpung masih seger kan, mata? Haha… kalau ingat masa itu, geleng-geleng kepala sendiri. Alhamdulillah, nggak pernah sukses ketemu salah satu ikhwan shalih. Datang ke masjidnya, memang salah niat sih. :p

Ketika kecil, sebagai anak bungsu, aku sudah terbiasa melihat contoh kakak-kakak dan orang tuaku yang berpuasa penuh, seharian di bulan Ramadan. Nggak ada ceritanya batal puasa gara-gara tergoda lihat sesiapa. Sombongnya dulu, karena aku merasa lebih kuat dan tahan berpuasa seharian dibandingkan salah satu kakak yang kadang lemas, pusing bahkan muntah ketika menjalani ibadah puasa. Setelah dewasa baru kusadari bahwa hal itu, kesombongan diri merasa kuat sendiri, justru merupakan godaan puasa yang asalnya dari dalam diri. Tidak sampai membatalkan puasa, tapi pahala puasa tak didapat sepenuhnya.

Sekarang ini, ketika seringkali berinteraksi dengan murid-murid kecilku di sekolah, godaan saat puasa adalah soal mengontrol emosi. Saat mereka masih dalam tahap belajar puasa, ngambek-ngambek di sekolah, menolak mengerjakan tugas atau ikut kegiatan kelas, whoaa… itu cobaan besar yang menantang goyahnya kesabaran. Kalau kelepasan marah, berkurang lagi dong pahala puasaku. Sayang betul kan? Luar biasanya, mereka yang kerap mengingatkan. “Miss, nggak boleh marah-marah lho, nanti batal puasanya.” Grrr… nggak batal nak, cuma mengurangi pahala puasa aja, ujarku dalam hati sambil menahan diri menurunkan emosi.

Tak kurang juga, godaan saat puasa adalah lidah dan pikiran kita untuk masih saja berpikir dan berbicara jelek tentang saudara kita. Bergosip, saling cela, atau berkomentar tajam, itu tak kurang membuat pahala puasa makin terpangkas. Duuh, jangan sampai deh puasa cuma dapat lapar dan haus belaka.

Penggoda puasa paling powerful itu memang sejatinya dari dalam diri kita. Ketika Allah janjikan bahwa selama Ramadan syaitan dibelenggu, tentu yang menggerakkan tangan, kaki, juga lidah dan pikiran, adalah nafsu kita belaka. Ketika kita bisa berfokus pada ibadah saja, memperbanyak pahala di bulan puasa, hati-hati pada pikiran yang bisa menggelincirkan. Jangan sampai salah niat, karena semestinya puasa itu hanya untuk Allah. Iringi langkah dengan bismillah, karena penggoda puasa paling digdaya itu, datangnya dari dalam diri kita. Hati-hatilah karenanya.


TAGS ngaBLOGburit Ramadan godaan puasa


-

Author

Follow Me