Posted by: batikmania | 11 September 2011

Merindui I’tikaf Ramadhan

Aku sedang mellow. Perlu pelarian sejenak dari rutinitas keseharian. Urgent! Tawaran seorang teman untuk ikut kegiatan i’tikaf di masjid kusambut dengan baik. Bukankah i’tikaf merupakan ibadah khusus bagi umat Islam di bulan Ramadhan yang mulia ini? Dan kupikir, satu-dua hari di masjid sebelum Idul Fitri, akan bisa menjadi masa re-charge energi keIslamanku. Semoga mendapatkan pencerahan dari Pemilik 99 Cahaya untuk mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan suci.

Usai berbuka dan makan di sebuah mall besar, aku dan seorang teman pergi ke masjid di luar area mall tersebut untuk melakukan shalat maghrib yang ‘terlambat’ karena dilakukan di akhir waktu. Astaghfirullah. Tak berapa lama kemudian adzan isya berkumandang. ‘Terjebaklah’ kita di masjid yang bukan jadi tujuan tempat i’tikaf. Akhirnya ikut shalat isya dan tarawih 8 rakaat di sana, setelah itu baru meluncur ke masjid tujuan untuk ikut i’tikaf.

Sampai di lokasi, aku langsung menuju lantai atas, tempat yang disediakan oleh panitia untuk akhwat. Ternyata lantai atas cukup penuh. Kulihat beberapa ibu telah menggelar matras, lengkap beserta bantal dan selimut, untuk persiapan i’tikaf bersama anak-anak balita mereka yang ikut dibawa untuk ber-i’tikaf. Subhanallah…

Berkaca diri, aku jadi malu hati. Umurku berkali-kali lipat dibandingkan para balita itu, sementara aku baru sekali itu menjalani i’tikaf. Sementara anak-anak balita itu, mereka sudah mulai berkenalan dengan kegiatan i’tikaf di usia yang sangat muda. Semoga Sang Pemilik 99 Cahaya melimpahkan cahaya-Nya kepada mereka. Aku pun mencari secelah kecil tempat untukku untuk menyimpan tas dan duduk meluruskan kaki, bersandar ke dinding.

pic: courtesy of nabimuhammad.info

Kubuka mushaf al quran dan mulai membaca. Di awal malam, suasana masih cukup kondusif. Terdengar satu-dua rengekan balita yang mungkin merasa kurang nyaman karena suasana yang berbeda dengan rumahnya sendiri. Tapi tak lama kemudian, tangisan bayi dan anak-anak mulai bersahutan, membuatku terjaga semalaman, nyaris tak tidur sama sekali, itu pun di area masjid bawah. Melanjutkan baca al quran, shalat istikharah, dan diseling ngobrol dengan teman. Saat itu, aku belum ‘dapat’ emosinya. Tak ada air mata tercurah.

Jelang pagi, sekitar pukul 2, jamaah masjid melakukan shalat tahajjud bersama. Surat yang dibacakan imam cukup panjang. Dan maaf-maaf, aku kurang menikmati. Bukan karena mengantuk, tapi bacaan imam yang tidak sesuai dengan standar baku yang kuharapkan (tidak seperti beberapa orang alumni asrama masjid Salman di masa kuliah dulu, yang subhanallah… indah) membuat konsentrasiku jadi agak terpecah. Apalagi ketika shalat witir. Shalat witir disisipi doa qunut dengan doa-doa lainnya yang teraaaamat panjang. Terdengar isak tangis dari sang imam juga beberapa makmum di sana-sini. Aku hampir terbawa emosi dalam syahdu akhir malam itu, tapi… bacaan doa yang diulang-ulang lebih dari 3 kali membuatku tidak konsentrasi. Aduh… mau berapa kali nih mengulang bait doa ini dan itu? Kukira imam akan mengulang baris doa dalam hitungan ganjil, 5 atau 7 kali. Ternyata cuma 4 kali. Euh…, tanggung rasanya.

Bacaan doa yang panjang itu akhirnya malah membuat aku merasa pegal dan kurang menikmati ibadah itu. Tidak… aku tidak kapok. Masih kucari suasana syahdu malam Ramadhan, masih kucari kesempurnaan ibadah, kuserahkan hati dan pikiranku kepada Sang Maha Cahaya. Kucari dan kurindukan cahaya petunjuk-Nya. Jika pun tak kudapat saat itu, semoga masih bisa kudapat di kesempatan Ramadhan mendatang. Semoga aku masih diberi-Nya keteguhan iman dalam Islam.

Pagi menjelang. Pendek kata, usai shalat duha dan istikharah di masjid dalam sesi i’tikaf itu, aku kembali mencurahkan isi hatiku, mengadu pada Pemilik 99 Cahaya, berharap Dia akan memberikan cahaya petunjuk-Nya bagiku yang sedang bimbang menentukan pilihan. Terasa berat rasanya, hingga membuat sesak di dada, dan akhirnya aku pun menangis sejadi-jadinya di dalam masjid. Eh…??? Belum puas aku menangis pada saat mengadu pada Allah, tahu-tahu terdengar himbauan dari pengurus masjid melalui pengeras suara, yang meminta jamaah keluar dulu dari masjid karena masjid mau dibersihkan. Uuuh, kuhentikan tangisku dengan terpaksa, lalu pindah ke koridor depan untuk melanjutkan bacaan alquran-ku dengan mata yang sudah terlanjur sembab. Sangat tidak nyaman rasanya.

Tapi Ramadhan itu, jadi pengalaman i’tikaf yang ‘berkesan’ buatku. Masih selalu kucari suasana Ramadhan syahdu, kurindui malam-malam panjang yang diisi ibadah, mencari cahaya petunjuk dari Sang Pemilik 99 Cahaya. Semoga masih diberi-Nya aku waktu, untuk


3 teman anda menyukai tulisan ini
Apakah anda menyukai tulisan ini ?

Tags: , , ,

Responses -

Bagus,,,jadi inspirasi buat ramadan tahun depan (mudah2an nyampe)…

[Reply]

pahala iktikaf memang sangat besar. mari kita semangat beriktikaf

[Reply]

wah artikel yg menarik ^^

[Reply]

terima kasih ya semua, untuk apresiasinya. Semoga Allah berkenan menjadikan Ramadhan mendatang (jika sampai umur kita) untuk menjadi Ramadhan yang lebih baik dari Ramadhan kali ini. Amiin. Insya Allah.

[Reply]

postingan yang mencerahkan :)

[Reply]

wah jadi kangen nih sama 10 terakhir ramadhan

[Reply]

semoga menang ya mbak..aku juga pengen i’tikaf kapan ya..bisa menikmati ramadhan bersama lagi? semoga i’tikafnya kemarin mencerahkan hati :)

[Reply]

…wahhh bener juga ttuh jadii pengen ramadhan lagiie nhee…
.
.
.
.n_n.

[Reply]

emm bguzz
jdi ada inspirasi bwat thun dpan,
trimakasih,
slam knal yahh

[Reply]

pengen ramadhan lagi rasanya :)

[Reply]

wah seneng sekali saya baca artikel anda :)

[Reply]

iya ih jadi pengen ramadhan lgi.. pengen sholat tarawih..

[Reply]

subehanallah,padahal keingginanku sejak dulu kayak Gt tapi kok susah untuk memulainya.

semoga tahun depan aku masih ada kesempatan

[Reply]

ya semoga ditahun depan aku bisa melaksanakan i’tikaf lagi.. :)

[Reply]

ya semoga ditahun depan saya bisa melaksakan i’tikaf kembali seperti kemarin.. amien

[Reply]

semoga kita bisa ketemu lg dengan bulan Ramadhan taun depan AMinnnnn

[Reply]

Leave a response -

Your response:


Categories