Idul Fitri tahun lalu kami berkunjung ke sebuah situs wisata budaya di wilayah Garut, kawasan Candi Cangkuang. Namanya sudah aku dengar sejak lama, tapi baru sekarang ini aku berkesempatan untuk mengunjunginya.
Bersama keluarga kakak, kami pergi pagi-pagi. Berdelapan dalam kendaraan Panther perak, kakak iparku mengemudikan kendaraannya di jalanan dengan lancar. Melintas tol ke arah Cileunyi, kami terus menuju arah Leles, Garut. Setelah masuk jalan yang agak kecil (bukan jalan raya mulus), kami sempat bertanya mengenai arah untuk memastikan bahwa rute yang kami ambil memang menuju ke tempat yang kami tuju. Tak lama kemudian kami tiba di lokasi yang dimaksud. Kawasan wisata Candi Cangkuang, kami datang….
Candi ini terletak di tengah danau dengan sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari tujuh rumah saja. Kampung adat yang disebut Kampung Pulo ini merupakan keturunan cucu moyang dari Arif Muhammad, seorang muslim, yang makamnya terdapat di kompleks candi Hindu ini. Makam seorang muslim di tengah kompleks candi Hindu? Jadi sebuah misteri…
Candi Cangkuang dan “kompleks” Kampung Pulo terletak di sebuah pulau di tengah danau Cangkuang. Untuk menuju ke pulau tersebut kita bisa menggunakan jasa perahu rakit kecil. Sebuah pengalaman seru untuk keponakan kecilku. Dia asyik sekali berjalan di sepanjang tepian landai rakit bambu dengan bagian tengan yang dilengkapi bangku beratap itu.
Sesampainya di ‘pulau’, bisa kita dapati banyak kios penjual suvenir, hingga musium kecil di dekat candi tempat menyimpan berbagai artefak penting yang berkaitan dengan kisah Candi Cangkuang dan asal-usul kampung Pulo ini, seperti naskah khutbah Jumat di kulit kambing ataupun petikan kitab di kulit kayu. Selain itu, ada juga beberapa foto penampakan yang… menurutku sih sebetulnya nggak penting-penting amat :p
Sementara itu, keponakanku yang hobi mengoleksi gantungan kunci, bisa menambah koleksinya dengan kantungan kunci “resmi” Candi Cangkuang ini yang dijual di toko suvenir mini di depan museum kecil itu. Mereka juga membeli kaos yang murah meriah bergambar candi Cangkuang. Aku sebetulnya ingin juga membeli mug bergambar, juga miniatur candi Cangkuang, tapi akhirnya semua itu tinggal jadi keinginan belaka. Aku terlalu (sok) sibuk mengasuh keponakan yang sedang lincah-lincahnya. Lupalah aku mengeluarkan dompetku (termasuk uang di dalamnya yang sudah tak seberapa. Ha…!)
Satu lagi keistimewaan di kampung Pulo ini adalah aturan yang diberlakukan untuk posisi rumah adatnya. Di kampung tersebut terdapat 7 rumah sederhana yang diperuntukan kepada anak Embah Dalem yang terdiri dari 6 perempuan dan 1 laki-laki. 7 rumah tersebut berupa rumah sederhana bercat putih berjajar berhadapan, 3 di sebelah kiri dan 3 lainnya di sebelah kanan dilengkapi dengan 1 mesjid (rumah anak laki-laki). Jumlah rumah tidak boleh ditambahkan dan 6 rumah yang ada tidak boleh terdiri lebih dari 6 kepala keluarga sehingga ketika ada yang menikah, anak tersebut harus keluar dari kampung tersebut. Sesuai aturan, rumah-rumah tersebut dimiliki oleh pihak perempuan, bukan laki-laki. Aturan kampung lainnya antara lain tidak boleh memukul gong dan tidak boleh memelihara ternak berkaki empat. Setelah kuperhatikan, memang tidak ada kambing, anjing ataupun kucing di kampung itu.
Candi Cangkuang beserta Kampung Pulo-nya menyimpan nilai-nilai tradisi yang hingga kini masih dipegang teguh, tak lekang oleh jaman. Saat ini menjadi salah satu situs yang dilindungi oleh Dinas Pariwisata Jawa Barat. Semoga manusia di jaman modern saat ini bisa belajar dan mengambil hikmah dari kesederhanaan mereka.
Categories:
Tags: Candi Cangkuang, Idul Fitri, Indonesia, Jelajah Wisata, Wisata Budaya








