Aku sedang mellow. Perlu pelarian sejenak dari rutinitas keseharian. Urgent! Tawaran seorang teman untuk ikut kegiatan i’tikaf di masjid kusambut dengan baik. Bukankah i’tikaf merupakan ibadah khusus bagi umat Islam di bulan Ramadhan yang mulia ini? Dan kupikir, satu-dua hari di masjid sebelum Idul Fitri, akan bisa menjadi masa re-charge energi keIslamanku. Semoga mendapatkan pencerahan dari Pemilik 99 Cahaya untuk mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan suci.
Usai berbuka dan makan di sebuah mall besar, aku dan seorang teman pergi ke masjid di luar area mall tersebut untuk melakukan shalat maghrib yang ‘terlambat’ karena dilakukan di akhir waktu. Astaghfirullah. Tak berapa lama kemudian adzan isya berkumandang. ‘Terjebaklah’ kita di masjid yang bukan jadi tujuan tempat i’tikaf. Akhirnya ikut shalat isya dan tarawih 8 rakaat di sana, setelah itu baru meluncur ke masjid tujuan untuk ikut i’tikaf.
Sampai di lokasi, aku langsung menuju lantai atas, tempat yang disediakan oleh panitia untuk akhwat. Ternyata lantai atas cukup penuh. Kulihat beberapa ibu telah menggelar matras, lengkap beserta bantal dan selimut, untuk persiapan i’tikaf bersama anak-anak balita mereka yang ikut dibawa untuk ber-i’tikaf. Subhanallah…
Berkaca diri, aku jadi malu hati. Umurku berkali-kali lipat dibandingkan para balita itu, sementara aku baru sekali itu menjalani i’tikaf. Sementara anak-anak balita itu, mereka sudah mulai berkenalan dengan kegiatan i’tikaf di usia yang sangat muda. Semoga Sang Pemilik 99 Cahaya melimpahkan cahaya-Nya kepada mereka. Aku pun mencari secelah kecil tempat untukku untuk menyimpan tas dan duduk meluruskan kaki, bersandar ke dinding.
Kubuka mushaf al quran dan mulai membaca. Di awal malam, suasana masih cukup kondusif. Terdengar satu-dua rengekan balita yang mungkin merasa kurang nyaman karena suasana yang berbeda dengan rumahnya sendiri. Tapi tak lama kemudian, tangisan bayi dan anak-anak mulai bersahutan, membuatku terjaga semalaman, nyaris tak tidur sama sekali, itu pun di area masjid bawah. Melanjutkan baca al quran, shalat istikharah, dan diseling ngobrol dengan teman. Saat itu, aku belum ‘dapat’ emosinya. Tak ada air mata tercurah.
Jelang pagi, sekitar pukul 2, jamaah masjid melakukan shalat tahajjud bersama. Surat yang dibacakan imam cukup panjang. Dan maaf-maaf, aku kurang menikmati. Bukan karena mengantuk, tapi bacaan imam yang tidak sesuai dengan standar baku yang kuharapkan (tidak seperti beberapa orang alumni asrama masjid Salman di masa kuliah dulu, yang subhanallah… indah) membuat konsentrasiku jadi agak terpecah. Apalagi ketika shalat witir. Shalat witir disisipi doa qunut dengan doa-doa lainnya yang teraaaamat panjang. Terdengar isak tangis dari sang imam juga beberapa makmum di sana-sini. Aku hampir terbawa emosi dalam syahdu akhir malam itu, tapi… bacaan doa yang diulang-ulang lebih dari 3 kali membuatku tidak konsentrasi. Aduh… mau berapa kali nih mengulang bait doa ini dan itu? Kukira imam akan mengulang baris doa dalam hitungan ganjil, 5 atau 7 kali. Ternyata cuma 4 kali. Euh…, tanggung rasanya.
Bacaan doa yang panjang itu akhirnya malah membuat aku merasa pegal dan kurang menikmati ibadah itu. Tidak… aku tidak kapok. Masih kucari suasana syahdu malam Ramadhan, masih kucari kesempurnaan ibadah, kuserahkan hati dan pikiranku kepada Sang Maha Cahaya. Kucari dan kurindukan cahaya petunjuk-Nya. Jika pun tak kudapat saat itu, semoga masih bisa kudapat di kesempatan Ramadhan mendatang. Semoga aku masih diberi-Nya keteguhan iman dalam Islam.
Pagi menjelang. Pendek kata, usai shalat duha dan istikharah di masjid dalam sesi i’tikaf itu, aku kembali mencurahkan isi hatiku, mengadu pada Pemilik 99 Cahaya, berharap Dia akan memberikan cahaya petunjuk-Nya bagiku yang sedang bimbang menentukan pilihan. Terasa berat rasanya, hingga membuat sesak di dada, dan akhirnya aku pun menangis sejadi-jadinya di dalam masjid. Eh…??? Belum puas aku menangis pada saat mengadu pada Allah, tahu-tahu terdengar himbauan dari pengurus masjid melalui pengeras suara, yang meminta jamaah keluar dulu dari masjid karena masjid mau dibersihkan. Uuuh, kuhentikan tangisku dengan terpaksa, lalu pindah ke koridor depan untuk melanjutkan bacaan alquran-ku dengan mata yang sudah terlanjur sembab. Sangat tidak nyaman rasanya.
Tapi Ramadhan itu, jadi pengalaman i’tikaf yang ‘berkesan’ buatku. Masih selalu kucari suasana Ramadhan syahdu, kurindui malam-malam panjang yang diisi ibadah, mencari cahaya petunjuk dari Sang Pemilik 99 Cahaya. Semoga masih diberi-Nya aku waktu, untuk
Tags: 99 Cahaya kisah Ramadhan bersama Hanum Rais, Islam, pengalaman, Ramadhan
Astaghfirullah… dasar manusia ya, di keadaan apa pun, sukanya mengeluh aja. Mungkin memang fitrahnya, seperti disebutkan dalam alquran surat Al Ma’arij 19-34. Berikut ini petikan terjemahan ayat 19-27.
…”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS 14:7)











