Posted by: batikmania | 11 September 2011

Merindui I’tikaf Ramadhan

Aku sedang mellow. Perlu pelarian sejenak dari rutinitas keseharian. Urgent! Tawaran seorang teman untuk ikut kegiatan i’tikaf di masjid kusambut dengan baik. Bukankah i’tikaf merupakan ibadah khusus bagi umat Islam di bulan Ramadhan yang mulia ini? Dan kupikir, satu-dua hari di masjid sebelum Idul Fitri, akan bisa menjadi masa re-charge energi keIslamanku. Semoga mendapatkan pencerahan dari Pemilik 99 Cahaya untuk mencapai kesempurnaan ibadah di bulan Ramadhan suci.

Usai berbuka dan makan di sebuah mall besar, aku dan seorang teman pergi ke masjid di luar area mall tersebut untuk melakukan shalat maghrib yang ‘terlambat’ karena dilakukan di akhir waktu. Astaghfirullah. Tak berapa lama kemudian adzan isya berkumandang. ‘Terjebaklah’ kita di masjid yang bukan jadi tujuan tempat i’tikaf. Akhirnya ikut shalat isya dan tarawih 8 rakaat di sana, setelah itu baru meluncur ke masjid tujuan untuk ikut i’tikaf.

Sampai di lokasi, aku langsung menuju lantai atas, tempat yang disediakan oleh panitia untuk akhwat. Ternyata lantai atas cukup penuh. Kulihat beberapa ibu telah menggelar matras, lengkap beserta bantal dan selimut, untuk persiapan i’tikaf bersama anak-anak balita mereka yang ikut dibawa untuk ber-i’tikaf. Subhanallah…

Berkaca diri, aku jadi malu hati. Umurku berkali-kali lipat dibandingkan para balita itu, sementara aku baru sekali itu menjalani i’tikaf. Sementara anak-anak balita itu, mereka sudah mulai berkenalan dengan kegiatan i’tikaf di usia yang sangat muda. Semoga Sang Pemilik 99 Cahaya melimpahkan cahaya-Nya kepada mereka. Aku pun mencari secelah kecil tempat untukku untuk menyimpan tas dan duduk meluruskan kaki, bersandar ke dinding.

pic: courtesy of nabimuhammad.info

Kubuka mushaf al quran dan mulai membaca. Di awal malam, suasana masih cukup kondusif. Terdengar satu-dua rengekan balita yang mungkin merasa kurang nyaman karena suasana yang berbeda dengan rumahnya sendiri. Tapi tak lama kemudian, tangisan bayi dan anak-anak mulai bersahutan, membuatku terjaga semalaman, nyaris tak tidur sama sekali, itu pun di area masjid bawah. Melanjutkan baca al quran, shalat istikharah, dan diseling ngobrol dengan teman. Saat itu, aku belum ‘dapat’ emosinya. Tak ada air mata tercurah.

Jelang pagi, sekitar pukul 2, jamaah masjid melakukan shalat tahajjud bersama. Surat yang dibacakan imam cukup panjang. Dan maaf-maaf, aku kurang menikmati. Bukan karena mengantuk, tapi bacaan imam yang tidak sesuai dengan standar baku yang kuharapkan (tidak seperti beberapa orang alumni asrama masjid Salman di masa kuliah dulu, yang subhanallah… indah) membuat konsentrasiku jadi agak terpecah. Apalagi ketika shalat witir. Shalat witir disisipi doa qunut dengan doa-doa lainnya yang teraaaamat panjang. Terdengar isak tangis dari sang imam juga beberapa makmum di sana-sini. Aku hampir terbawa emosi dalam syahdu akhir malam itu, tapi… bacaan doa yang diulang-ulang lebih dari 3 kali membuatku tidak konsentrasi. Aduh… mau berapa kali nih mengulang bait doa ini dan itu? Kukira imam akan mengulang baris doa dalam hitungan ganjil, 5 atau 7 kali. Ternyata cuma 4 kali. Euh…, tanggung rasanya.

Bacaan doa yang panjang itu akhirnya malah membuat aku merasa pegal dan kurang menikmati ibadah itu. Tidak… aku tidak kapok. Masih kucari suasana syahdu malam Ramadhan, masih kucari kesempurnaan ibadah, kuserahkan hati dan pikiranku kepada Sang Maha Cahaya. Kucari dan kurindukan cahaya petunjuk-Nya. Jika pun tak kudapat saat itu, semoga masih bisa kudapat di kesempatan Ramadhan mendatang. Semoga aku masih diberi-Nya keteguhan iman dalam Islam.

Pagi menjelang. Pendek kata, usai shalat duha dan istikharah di masjid dalam sesi i’tikaf itu, aku kembali mencurahkan isi hatiku, mengadu pada Pemilik 99 Cahaya, berharap Dia akan memberikan cahaya petunjuk-Nya bagiku yang sedang bimbang menentukan pilihan. Terasa berat rasanya, hingga membuat sesak di dada, dan akhirnya aku pun menangis sejadi-jadinya di dalam masjid. Eh…??? Belum puas aku menangis pada saat mengadu pada Allah, tahu-tahu terdengar himbauan dari pengurus masjid melalui pengeras suara, yang meminta jamaah keluar dulu dari masjid karena masjid mau dibersihkan. Uuuh, kuhentikan tangisku dengan terpaksa, lalu pindah ke koridor depan untuk melanjutkan bacaan alquran-ku dengan mata yang sudah terlanjur sembab. Sangat tidak nyaman rasanya.

Tapi Ramadhan itu, jadi pengalaman i’tikaf yang ‘berkesan’ buatku. Masih selalu kucari suasana Ramadhan syahdu, kurindui malam-malam panjang yang diisi ibadah, mencari cahaya petunjuk dari Sang Pemilik 99 Cahaya. Semoga masih diberi-Nya aku waktu, untuk

Tags: , , ,

Posted by: batikmania | 18 Agustus 2011

Batal di Penghujung Asar. Aaaaah… :(

Sebagai perempuan, batal puasa tiap tahun tuh sudah biasa. Tapi tentu saja paling nggak suka kalau baru ketahuan mesti batal puasa di penghujung asar. Aaah. Tanggung banget sih, kan bentar lagi maghrib.

Tapi dipikir-pikir, kalaupun ketahuan batalnya pagi-pagi, suka ‘nyesel’ juga. Coba ketahuannya dari malem hari, jadi nggak mesti ikut bangun pagi buta buat sahur. Kan bisa sarapan aja, jam 6, misalnya… :p

Astaghfirullah… dasar manusia ya, di keadaan apa pun, sukanya mengeluh aja. Mungkin memang fitrahnya, seperti disebutkan dalam alquran surat Al Ma’arij 19-34. Berikut ini petikan terjemahan ayat 19-27.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia Amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Kelanjutan terjemahannya, ayat 28-34? Silakan cari sendiri ya. Ayo, jangan berkeluh-kesah. Segera ambil al quran dan baca sendiri. Menabung makin banyak pahala di bulan puasa. Mumpung nggak batal kan, puasanya? ;) Semoga kita termasuk orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

Tags: , , , ,

Posted by: batikmania | 15 Agustus 2011

Ngalap Berkah dengan Sedekah

Perempatan jalan Ahmad yani Bandung, dekat stadion Persib. Aku berharap bakalan dapat lampu hijau. Tapi harapan tinggal harapan. Ketika lampu lalu lintas menyala merah, beberapa pemuda maupun anak-anak hingga orang dewasa turun ke jalan dan menghampiri kendaraan yang berhenti. Meminta sedekah ataupun (berlagak) menjual jasa.

dscn5622

Seorang remaja beranjak dewasa menghampiri Katana yang kukemudikan. Dia membawa kemoceng bulu ayam di tangannya, dan serta merta mengusapkannya ke kaca mobilku, padahal aku sudah menggeleng dan memberi kode dengan tangan pertanda aku tidak mau, tidak memerlukan jasanya. Sore-sore masih panas begitu, kalau badan mobil disapu pakai kemoceng bulu ayam, hasilnya malah akan bergaris-garis belang yang sama sekali nggak cantik kelihatannya. Well… kalau nggak disapu pakai kemoceng, badan mobil berdebu dong? Hm… minimal debunya tersebar merata, nggak belang-belang nggak beraturan :p

Si pemuda yang tadi menghampiri mobilku lalu beranjak ke dekat kaca pengemudi yang terbuka sebagian.

“Bu… sedekahnya-lah, bu… untuk buka puasa…!” ucapnya sok memelas. Euh, aku nggak simpati sama pemuda gagah begitu. Masih banyak kerjaan lain yang bisa dia lakukan selain jadi penyapu kaca mobil di perempatan jalan. Aku tidak mengalokasikan sedekah untuk orang-orang seperti dia.

“Bu… sedekah di bulan puasa bu… biar besar pahalanya…!” Grrrh, aku jadi gerah juga. Aku ingin dia segera pergi dari sebelah telingaku. Kurogoh juga dasbor mobil, mencari recehan yang tersisa. Sementara si pemuda sudah berucap hamdalah. Kuserahkan sekeping recehan itu ke tangannya yang menadah. Ucapan terimakasih, bu haji-nya kuaminkan saja. Semoga jadi doa.

Di kesempatan lain, di persimpangan yang sama. Seorang pemuda lain menghampiri, lagi-lagi dengan kemoceng bulu ayam di tangannya. Dengan sigap, lagi-lagi kugelengkan kepala ditambah lambaian tangan tanda ketidaksetujuan. Dia menghampiri samping Katana-ku, dan menawarkan bendera merah-putih kecil.

“Ini aja atuh, bu haji…?” tanyanya dengan sopan. Kutunjukkan kaca depan mobilku dengan senyum.

“Sudah ada…” Jawabku. Dia pun tersenyum.

“Kalau begitu selamat jalan, bu haji. Semoga selamat sampai tujuan.” ucapnya yang kembali kuaminkan. Ah… perilaku santun begitu lebih enak rasanya ke hati. Tidak memaksa, malah memberi doa. Kudoakan kembali dengan doa yang lebih baik. Semoga Allah mengabulkan. Amiin.

Tags: , , ,

Posted by: batikmania | 12 Agustus 2011

Kari Lagi??? Oh No… Oh Yes…!

Beberapa waktu lalu, kami dengan rombongan sekolah, berkesempatan untuk mengunjungi sekolah rekanan kami di Singapura selama sepekan. Excited, tentunya, membayangkan pengalaman yang akan kami jalani di negara tetangga itu. Pendek kata, kita pun berangkat ke sana.

Hari pertama, asyik-asyik aja, walaupun menu makan malam membuat kami terpana. Sandwich isi tuna-mayo, bolu gulung, kue lapis, pastel isi kari, dan teh panas (boleh pake susu. alhamdulillah enak.) Buat rata-rata perut Indonesia, kalau belum nasi, rasanya belum makan malam kali ya. Perutku sendiri, alhamdulillah nggak rewel. Dikasih nasi, hayuu. Dikasih roti juga oke oke aja.

Hari berikutnya, kami makan di kantin sekolah. Dengan berbekal kupon makan yang kita punya, ternyata kita bisa memilih menu apa saja yang kita suka. Jadilah kita icip-icip janis makanan ini dan itu, eksperimen kuliner. Hm… rata-rata makanan di sana berbumbu kari sih, cuma beda intensitasnya aja. Ada yang rasa kari-nya ringan, hanya selintas, tapi ada juga yang kuat mulai dari aroma hingga rasanya. Aku sendiri? Nggak terlalu masalah, rasanya. Kalau suka, ya besok bisa pesan lagi. Kalau nggak suka, ya besok ganti menu lagi ;) Semudah itu saja, bukan?

Lontong goreng. Pic: courtesy of pangkin.blogspot.com

Hari ketiga di sana, teman-teman mulai mengeluhkan menu makanan yang berasa-beraroma kari di sana-sini. Oh… come on…! Kita masih beruntung lho bisa makan dengan menu pilihan kita. Bayangkan orang lain di luar sana (iya, ekstrimnya sih di Somalia), yang kelaparan nggak bisa makan. Jangankan untuk memilih makanan yang berasa atau tidak berasa kari, bahkan makanan yang nggak ada rasanya sekalipun, mereka nggak bisa! Jadi, kenapa kita nggak bersyukur saja sih, dengan apa yang kita punya? Alhamdulillah. Insya Allah Allah akan menambah nikmat itu, baik dengan yang serupa ataupun berbeda.

Bukankah seperti dijanjikan Allah dalam firman-Nya, Q.S. 14 ayat 7.

qs-14-7…”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS 14:7)

Pada ‘males’ bersyukur ya, ‘takut’ ditambahin lebih banyak makanan yang berasa kari lagi? :p

Ayo, kita data lagi rasa syukur kita. Alhamdulillah masih bisa menikmati makanan yang terhidang. Lidah kita masih bisa mencecap rasa, asin, manis, pahit, pedas, gurih dan nikmat. Alhamdulillah, masih ada makanan yang bisa kita makan. Perut kita masih bisa mencerna. Bahkan ketika segala sisa makan bisa keluar dari tubuh kita dengan proses yang lancar, selayaknyalah semua itu kita syukuri. Berharap Allah akan memberi nikmat yang lain lagi, untuk kita nikmati, kini ataupun esok hari.

Tags: , , , ,

Posted by: batikmania | 12 Agustus 2011

Alhamdulillah, Untuk Semua Berkah…

…”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.(QS 14:7)

Precious moment, buka bersama bareng teman-teman baik.

Precious moment, buka bersama bareng teman-teman baik. Alhamdulillah.

Alhamdulillah, kemarin sore sukses buka puasa bareng sahabat dekat. Bertiga saja, nyaris nggak ke mana-mana, karena nggak kita lakukan di kafe atau resto apapun. Ini berarti, kita nggak mesti nunggu antrian panjang untuk bisa duduk di tempat itu. Namanya jam buka puasa, cafe dan resto pasti penuh dipadati pengunjung. Kali ini kita buka bersama di rumah salah seorang teman, bersama ibu dan kakaknya. Makanan disiapkan, tentunya, dan alhamdulillah… nggak perlu bayar :p

Karena aku ke rumahnya sepulang kerja, ditambah acara macet di jalanan ke arah Ciumbuleuit, aku nyampe ke lokasi sudah saat-saat terakhir jelang maghrib. Aku sempat khawatir dengan ‘ancaman’ macet di seputar kampus Unpar Ciumbuleuit, tapi ternyata alhamdulillah, dikasih lancar sampai tujuan.

Mendekati lokasi, aku bingung lagi. Sudah beberapa kali sebetulnya ke rumah yang terletak di kawasan padat Ciumbuleuit itu, tapi selalu didampingi, nggak pernah sendiri. Dan kali ini? Hm… bismillah deh. Setelah konfirmasi telfon-telfonan, alhamdulillah… akhirnya nyampe juga.

Cerita-cerita, makan bareng, seru. Mulai cerita seputar kerjaan masing-masing, berbagai kisah lucu dan seru, lengkap. Kisah masa lalu dan masa kini, terbahas habis. Seiring dengan terbahas juga makanan yang terhidang, sedikit demi sedikit. Maklumlah, tiga gadis makan, jatahnya nggak seberapa banyak juga sih. Pulangnya, kita dibekali masing-masing sekantung makanan. “Untuk sahur…” kata sang ibu. Wah… Alhamdulillah (kebetulan di rumah belum masak nasi untuk sahur. huhuy…!)

Dan akhirnya kita harus pulang. Nikmatnya silaturahim, waktu, kesehatan, keimanan, kusyukuri semua moment ini. Semoga Allah menambah segala nikmat yang kurasa, yang (kurasa) kupunya, yang dipinjamkan-Nya sementara hidup di dunia. Amiin.

Tags: , , , ,

Posted by: batikmania | 11 Agustus 2011

Suka Duka Buka Bersama

Ketarik-tarik, rasanya. Budaya puasa di Indonesia. Banyak undangan buka bersama dari mana-mana. (Sok ngetop aja). Dan hari ini, ada acara buka bersama bareng sahabat lama. Nggak bisa tidak, aku harus ke sana. NgaBLOGburit? Besok lagi aja…!

Tags: , , , , , , ,

Posted by: batikmania | 4 Agustus 2011

Gara-Gara Puasa…

Biasanya aku jadi ‘penghuni terakhir’ yang ninggalin tempat kerja. Maaf-maaf… seringnya sih untuk merintang waktu sampai jalanan kira-kira lengang. Karena aku nyetir mobil sendiri, males banget deh kalau pulang kerja mesti kejebak macet panjang di jalan menuju pulang. Mendingan nunggu agak lama sebelum pulang, dan menemui jalanan lengang.

Tapi gara-gara puasa… aku nggak enak hati aja untuk berlama-lama di kantor. Soalnya pas di depan tempat kerjaku, ada masjid besar yang tentu saja selalu menyediakan menu buka puasa gratisan untuk pengunjung masjid. Aku nggak enak hati kalau pulang sore jelang maghrib begitu. Nanti disangka jadi penunggu takjil gratisan (padahal bukannya nggak mau sih… lagian, takjil di masjid itu kelihatannya menggoda sekali…!!!) Ya nggak enak hati aja. :(

jalanan-bojongsoang

salah satu ruas jalan yang sedang dalam proses pengerjaan

Gara-gara puasa juga, aku tentunya jadi pulang lebih cepat. Tapi ternyata eh ternyata, jalanan udah lengang tuh selepas maghrib begitu (dari tempat kerja sebelum maghrib, dan menjalani maghrib di jalan). Padahal sedang ada perbaikan ruas jalan di jalan yang biasa aku lewati. Kalau pagi perjalanan bisa sejam setengah sampai dua jam, ketika pulang di bulan puasa ini, bisa satu jam saja. Asyik bener…!

Gara-gara puasa tentunya, aku jadi bawa bekal sebotol minuman ringan untuk teman berbuka di perjalanan, supaya nggak perlu mampir-mampir untuk beli makanan/minuman untuk berbuka.

Tags: , , , ,

Posted by: batikmania | 3 Agustus 2011

Hobby Kok Nge-Blog… :p

Awal-awal kenal blog, asyik-asyik blogwalking aja. Sempat kaget dan terheran-heran ketika tahu bahwa ada blogger yang mau-maunya mengelola blog pribadi sampe belasan (get real…)!!! Nggak pernah kebayang bahwa suatu waktu aku ternyata ‘kena tulahnya’.

Hah, biasa deh kayak gitu. Setelah ngomongin suatu hal, apalagi soal celaan-celaan kecil, biasanya aku ‘kena karma’. Ya sama dengan urusan blogging ini. Setelah ‘mencemooh’ si blogger itu -padahal cuma dalam hati- karena edan-eling mengelola belasan blog pribadi, ternyata seiring waktu aku juga mulai menambah blog pribadiku. Karma banget nggak sih…? :p

Awalnya gara-gara pengen ikutan lomba nulis blog posting. Bikinlah blog khusus untuk kategori yang dilombakan. Nulis beberapa posting-an, akhirnya membuahkan hasil yang tidak terlalu mengecewakan. Blog itu bertengger di tangga juara harapan 1 di lomba blog balai bahasa Bandung tahun 2009 lalu. Ketika tahun berikutnya mau ikutan lagi, hm… harus bikin blog baru deh. Hayuu-lah.

Bikin blog di BLOGdetik juga, karena sering ngadain lomba yang mengharuskan partisipannya punya account di BLOGdetik. Boleh deh… Padahal selain blog ini, sudah ada blog batikmania yang kujadikan blog curhat pribadi. Anggap aja sebagai cyber-diary. Ada jugablog batikmania lainnya yang kukhususkan untuk menulis dalam bahasa Inggris. Susah sih, tapi mesti maksain untuk melatih kemampuan bahasa Inggrisku. Ganbattee…! (heu, kenapa jadi bahasa Jepun nih? :p)

Di blog itu, ‘gara-gara’ nge-blog juga, pernah ikutan lomba blog Ramadhan dan masuk nominasi 10 blog posting terbaik. Biarpun nggak jadi salah satu pemenang, tapi jadi salah satu dari 10 blog posting unggulan, bangga juga dong. Terutama ketika aku jadi satu-satunya peserta dari Indonesia, bersaing dengan para blogger dari banyak negara lain. Jadi makin semangat ngeblog nih.

blogger-mosaic

tampilan blog dunia-batikmania dengan efek mosaic. asyik.

Makin keranjingan deh lomba nulis blog posting. Ketika ada info tentang lomba blog ‘hijau, aku bikin lagi blog baru dengan tema hijau. Khusus untuk tema kerjaan sekolah tempatku beraktivitas, aku buat blog dunia-batikmania, sementara untuk bisnis sampinganku, aku juga bikin blog tersendiri. Nah, itu aja udah berapa tuh blog yang kukelola? Ada lagi blog curhat banget, private blog deh, yang isinya bener-bener curahan hati. Rahasia hati, kisah asmara, ataupun nangis-nangis, di blog itu deh tempatnya. :p

Agak ‘gempor‘ juga sih mengelola blog sedemikian banyaknya, tapi kalo dilakonin, ternyata asyik-asyik aja tuh. Frekuensi nge-blog memang nggak bisa terlalu intens, tapi justru aku belajar untuk memanfaatkan waktu seoptimal mungkin. Apalagi di bulan puasa sekarang ini. Nunggu buka, ngeblog; Setelah tarawih, ngeblog; abis sahur, ngeblog lagi. Ngeblog hampir setiap hari begini, heu… ‘belel‘ deh mata :p Tapi ketika hobby nulis blog posting ini menghasilkan sesuatu, apakah itu hadiah ratusan ribu ataupun ‘cuma’ sekedar pin eksklusif, wah… hati ini puas tak terperi. (lebay mode on) Nah, kali ini mau dapat hadiah apa ya dari BLOGdetik…? ;p

Tags: , , , , ,

Posted by: batikmania | 3 Agustus 2011

Suwe Ora Ngeblog

Deuh… lama banget nih nggak nulis di blogdetik. Kangen juga. Yuk ah, aktifkan lagi!!! Setting-an dasbor-nya yang mirip wordpress, bikin aku familiar dengan layanan di blogdetik. Tapi ternyata eh ternyata, blogdetik lebih asyik ah. Kan tempo hari ada update ‘penampakan’ dasbor. Jadinya lebih asyik di sini dong ;)

Tags: , ,

Posted by: batikmania | 24 April 2011

Yoyo Battle di BIP

Tak sengaja ngetem di BIP hari Sabtu kemarin. Sambil nunggu sebuah acara lainnya di tempat lain, nunggu ketemuan sama teman-teman lama.
Tunggu punya tunggu, mampir dulu di pelataran depan BIP yang sedang rame-rame dengan musik yang diputar kencang. Tanpa ada tujuan khusus, mampir deh ke sana. Eh, ternyata sedang ada lomba adu jago main yoyo. Seru juga, ternyata ;) Nonton deh.

Aksi guling-guling di panggung yoyo battle. Ternyata si kecil yang juara.

Aksi guling-guling di panggung yoyo battle. Ternyata si kecil yang juara.

Dua orang adu jago di panggung pendek depan. Semua punya kemampuan khusus yang mengundang decak kagum. Ada juga sih satu-dua kontestan yang ‘tergelincir’ saat sedang unjuk gigi eh… unjuk kebolehan. Selain individual battle, ada juga group battle. Semuanya seru, dengan aksi mandiri maupun koreografi. Berusaha saling mengungguli lawan, menjatuhkan mental mereka. Tapi dewan juri terkadang bisa sangat kejam. Range nilai salah satu juri berkisar antara 8 hingga 90. Jauh banget, kali… Sementara dua juri lainnya relatif ‘murah hati’ dan konsisten memberi nilai dalam range puluhan, bahkan selalu di atas 50. Tapi toh nilai akhir gabungan ketiganyalah yang menentukan siapa-siapa yang jadi pemenang.

Keriaan mulai redup ketika hujan mulai menetes satu-satu. Panggung disingkirkan, musik dimatikan, tapi tenda-tenda kecil masih berdiri, dan salah satunya… kayaknya ada blogdetik di sana ya? ;) Tadinya mau bikin lipotan langsung, tapi nggak sempat. Akhirnya ya cuma ngambil foto seadanya dari balik pohon (kok ya kayak film India :p). Dari sebelah loudspeaker yang suaranya mantep banget, Diah Utami melaporkan ;)

Tags: , , , ,

Older Posts »

Categories